Rabu, 17 Desember 2014

Kedekatan

Belasan menit yang lalu saya kirim sandek (pesan pendek) ke 6 kolega saya yang jika namanya saya ambil dua huruf awalnya saja bisa dirangkai: DaRuNaMaNuSu. 
Empat sandek sebagai balasan dari mereka secara berurutan masuk ke hp saya. Mereka adalah: 1.Su, 2. Nu, 3. Ma, 4. Da.
Su adalah kolega dengan jarak rumah terdekat dengan rumah saya. Nu adalah kolega yang meja kerjanya paling dekat dengan meja kerja saya. Ma adalah kolega yang DUK-nya terdekat dengan DUK saya. Dan yang terakhir, Da, adalah kolega yang semapel dengan saya. 

Minggu, 07 Desember 2014

Kurikulum Indonesia Bersatu

Namanya kurikulum 2013. Sering ditulis pendek menjadi K-13. Mulai Januari nanti, saat sekolah memasuki semester genap tahun pelajaran 2014/2015 kurikulum pendidikan terbaru yang dimiliki Indonesia ini akan diberlakukan secara terbatas di 6.221 sekolah. Anda tentu tidak lupa dan tidak akan pernah lupa sepanjang masa bahwa Kurikulum 2013 ini adalah produk Kabinet Indonesia Bersatu (KIB). Saya katakan Anda tidak akan pernah lupa sepanjang masa karena dari namanya kita tentu gampang mengingatnya. Iya, K-13 sedikit kita otak-atik jadilah, KIB. Kurikulum Indonesia Bersatu, eh, kurikulum bikinan Kabinet Indonesia Bersatu!

Minggu, 16 November 2014

Mendhem Jero

Sebagai salah satu guru yang dianggap guru senior di sekolah suatu ketika saya diberi kesempatan oleh pimpinan sekolah untuk mengikuti "Sosialisasi Program Induksi untuk Guru Pemula".
Bertempat di Gedung Pemuda, kegiatan selama 2 hari dan diikuti oleh rekan-rekan guru SD/SMP berjalan lancar sesuai rencana. Narasumber adalah guru-guru (dengan tugas tambahan sebagai kepala sekolah SMP/SMA) terpilih karena prestasi.
Ada catatan kecil yang bahan bakunya saya dapatkan dari pujian kepada narasumber yang diungkapkan seorang peserta lain-guru yang dari usia tergolong senior banget-sebut saja Pak A.
"Pak X itu tadi tampil bagus banget. Penjelasan yang disampaikan runtut dengan bumbu humor yang cukup. Enak diikuti. Mudah dipahami. Tapi sayang..."
"Sayang pripun Pak?" Saya yang kebetulan bersebelahan tempat duduk langsung menanggapi karena saya tidak sabar menunggu kelanjutan komentar beliau yang dominan pujian itu.
"Sayang Pak X tadi belum bisa mendhem jero seseorang yang pernah menjadi gurunya..."
Oh. Kemudian saya coba mengingat kembali apa saja yang disampaikan Pak X. Nah, ketemu. Barangkali karena sepenggal kalimat Pak X yang kurang lebih begini:
"Bapak/Ibu jadilah guru yang penuh percaya diri jangan seperti guru saya dulu yang ketika menerangkan pelajaran tatapan matanya tertuju ke langit-langit ruang kelas, karena tidak berani menatap wajah murid-muridnya!"

Jumat, 05 September 2014

Ganti Baju

Saya kira anda sudah maklum terhitung mulai hari ini di sekolah di ruang kerja kita berlaku aturan baru: setiap jumat wajib berseragam pramuka lengkap. Ganti baju.
Sungguhpun bagi saya agak sedikit merepotkan aturan ganti baju ini saya sambut dengan suka cita.
Saya katakan sedikit merepotkan karena, ternyata, tidak mudah mencari ukuran baju dan celana pramuka yang pas dengan ukuran raga saya. Di setiap toko pakaian seragam yang saya datangi selalu tidak ada baju pramuka dengan ukuran yang sunguh-sungguh klop. Tidak ada pilihan lain selain: ndandakke.
Tentang suka cita saya pada aturan baru ini setidaknya ada dua alasan. Pertama, saya tidak perlu lagi repot-repot adu argumentasi dengan istri saya saat dia ngebet pengen membelikan baju batik baru setiap melihat kerah baju batik lama yang saya kenakan mulai pudar warnanya.
Alasan kedua, disadari atau tidak batik seringkali dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk menunjukkan gengsi sosial. Dengan batik kawan sepekerjaan bisa kita sangka lebih rendah dari kita. Mudah-mudahan aturan baru ini bisa mengurangi disparitas berbusana di tempat kerja.
Salam Pramuka!

Jumat, 01 Agustus 2014

Ke Dalam Kotak Infak Saja

"Infak dari Ibu X satu juta lima ratus ribu rupiah, infak dari bapak Y sembilan ratus ribu rupiah, infak dari Hamba Allah tujuh juta rupiah, infak dari Hamba Allah satu juta rupiah, infaq dari....."

Kutipan di atas adalah apa yang Rossi dengar dari pengeras suara bersumber dari sebuah Masjid di kampung sebelah. Beberapa menit sebelum khotbah Jum'at terdengar. Pengumuman nama-nama pemberi infak yang dilakukan oleh pengurus masjid. Mohon maaf (X) dan (Y) pada kutipan di atas saya pakai untuk mengganti nama-nama sesungguhnya yang terdengar dari pengeras suara.
Ada yang dikritisi oleh Rossi ihwal penyebutan nama-nama pemberi infak tadi: Pemakaian istilah Hamba Allah. Katanya mengapa tidak seperti yang lain menggunakan nama sendiri, kan lebih jelas dan mudah dimengerti. Mengapa menggunakan nama Hamba Allah? Apa tujuannya?
Ibunya menimpali begini, "Tidak semua pemberi infak senang bila namanya diketahui oleh orang lain apalagi khalayak. Karena itulah oleh penerima infak yaitu pengurus masjid dipakailah sebutan Hamba Allah."
Apakah Rossi puas dengan penjelasan ibunya? Tidak ternyata. Rossi malah bilang, "kalau keinginan pemberi infak seperti itu  mengapa uang sedekah mereka tidak dimasukkan ke dalam kotak infak saja?"

Sabtu, 26 Juli 2014

Alaah Ndhuk...

Lintang bikin kaget. Saya kira ada pesan penting dari ibundanya yang saat ini sedang berada di desa kelahirannya: Bedoro. Lintang gita-gita dari ruang tengah menuju ke ruang belakang menemui saya hanya untuk ndongeng bahwa komentar saya dikomentari oleh komentator lain. Memang, selama prosesi pilpres 2014 ini Lintang ikut-ikutan membaca artikel dan sekaligus komentar-komentar yang muncul di bawah setiap artikel yang dimuat di kompas.com. Lintang tahu bahwa Irenna (nama adiknya yang nomor 2) adalah nama yang kerap saya pakai di komentar-komentar saya.
Barangkali di mata Lintang komentar saya yang dikomentari lebih menarik dari komentar saya lainnya.
Alaah ndhuk, ndhuk, ngono wae gawe kaget....

Kamis, 24 Juli 2014

Mangga Jokowi

Sudah dua hari ini sejak capres nomor 2 dinyatakan menang oleh KPU Lintang, sulung kami, telaten sekali menyirami dua tanaman mangga di samping kanan rumah. Dua tanaman baru yang bibitnya kami beli di wetan alun-alun Kajen beberapa hari sebelum pengumuman hasil pilpres resmi oleh KPU dilakukan. Rencananya bila capres nomor urut 1 yang menang maka saya akan menanam (lebih tepatnya memindah tempat tanam) hanya 1 pohon. Bila ternyata yang menang capres nomor urut 2 maka dua-duanya akan saya tanam. Harap diketahui informasi dari mba' si penjual tanaman katanya ini mangga tali jiwo atau penduduk desa kami menamainya pelem madu. Bolehlah namanya tali jiwo atau pelem madu tetapi sejak dua hari yang lalu kami memberi nama baru. Ijinkam kami, di halaman rumah kami, secara sepihak kami memberi nama lain atas 2 pohon mangga yang baru dua hari kami tanam itu dengan nama: Mangga Jokowi. Tak ada maksud lain. Ini untuk pengingat saja. Maaf.