Senin, 23 Februari 2015

Miniperpustakaan

Ada pembaca yang penasaran dengan istilah "miniperpustakaan" yang saya tulis di sketsa biografis di blog ini. Rasa penasaran itu saya ketahui dari sandek (SMS) yang masuk ke hape saya. Sandek ini datang dari teman kuliah saya, dulu.
Sudah saya balas namun tampaknya belum memuaskannya. Mudah-mudahan penjelasan di bawah ini bisa bikin lebih terang.
Adalah sebuah ruang di rumah kami yang kami bangga menyebutnya sebagai perpustakaan. Perpustakaan berdimensi kecil. Luasnya hanya 30 meter persegi. Koleksi bahan pustaka juga minim. Cuma sekitar seribu tigaratusan. Terdiri buku-buku pelajaran anak-anak kami, buku-buku umum, dan bundelan majalah. Sungguhpun di ruang ini tersimpan seribuan eksemplar koran dan anda bisa mengakses internet tanpa modem, sejatinya belum pantas disebut perpustakaan. Untuk mendekati kepantasan saja kemudian kami menamakannya: Miniperpustakaan.
Berhubung embrio dari miniperpustakaan ini adalah Program Seribu Buku maka saya gabungkan sehingga menjadi: Miniperpustakaan "Seribu Buku".
Pembaca, ruang inilah yang, InsyaAllah, jika ada usia panjang dan tiba saatnya saya dan istri saya purnatugas akan kami manfaatkan untuk berbagi. Turut membantu menggelorakan minat baca generasi penerus--anak-anak usia sekolah--di area RW 05 di desa kami. Syukur-syukur bisa lintas desa, lintas usia. Doakan ya....

Minggu, 08 Februari 2015

Tanya Sendiri

Bisa dimaklumi mengapa teman istri saya (yang juga teman saya) selalu tidak berminat mengikuti seleksi kepala sekolah, hingga saat ini. Padahal di kalangan MGMP semua tahu dia seorang teladan. Saya sebut teladan bukan semata-mata karena dia pernah menyabet gelar guru teladan/berprestasi di kabupaten kami. Tidak sekadar itu. Kreativitasnya saat eksyen di kelas tak hanya  menginspirasi peserta didik namun juga menjadi kiblat para kolega satu mapel.
Ada apa gerangan mengapa sang teladan ini enggan menerima tantangan untuk mengemban tugas tambahan yang sangat mulia--menjadi kepala sekolah--saat terbuka lebar kesempatan dan peluang besar untuk itu?
Maaf. Untuk yang ini anda tanyakan sendiri saja.

Kamis, 01 Januari 2015

Khasiat Twitter

Hari ini saya resmi menjadi twepple. Bukan tanpa tujuan saya membuat akun twitter. Tentu tujuannya bukan agar "kicauan" saya dibaca orang lain. Bukan itu. Tujuan saya membuat akun twitter agar saya bisa tahu dengan lebih cepat pendapat atau tanggapan para tokoh terpelajar tentang isu mutakhir di negeri ini.
Tidak saya sangka-sangka ternyata ada manfaat lain yang saya dapatkan dari tweet yang mereka unggah. Membaca akun twitter KH. A. Mustofa Bisri saya serasa diingatkan untuk melaksanakan kebajikan setiap saat. Dari tweet juga saya menjadi tahu bagaimana reaksi Mohamad Sobary mantan peneliti LIPI dan Empu Kantor Berita Antara yang juga penulis Kang Sejo Melihat Tuhan saat dibuat kesal oleh layanan petugas di sebuah lembaga keuangan milik swasta.
Inilah khasiat twitter.

Rabu, 17 Desember 2014

Kedekatan

Belasan menit yang lalu saya kirim sandek (pesan pendek) ke 6 kolega saya yang jika namanya saya ambil dua huruf awalnya saja bisa dirangkai: DaRuNaMaNuSu. 
Empat sandek sebagai balasan dari mereka secara berurutan masuk ke hp saya. Mereka adalah: 1.Su, 2. Nu, 3. Ma, 4. Da.
Su adalah kolega dengan jarak rumah terdekat dengan rumah saya. Nu adalah kolega yang meja kerjanya paling dekat dengan meja kerja saya. Ma adalah kolega yang DUK-nya terdekat dengan DUK saya. Dan yang terakhir, Da, adalah kolega yang semapel dengan saya. 

Minggu, 07 Desember 2014

Kurikulum Indonesia Bersatu

Namanya kurikulum 2013. Sering ditulis pendek menjadi K-13. Mulai Januari nanti, saat sekolah memasuki semester genap tahun pelajaran 2014/2015 kurikulum pendidikan terbaru yang dimiliki Indonesia ini akan diberlakukan secara terbatas di 6.221 sekolah. Anda tentu tidak lupa dan tidak akan pernah lupa sepanjang masa bahwa Kurikulum 2013 ini adalah produk Kabinet Indonesia Bersatu (KIB). Saya katakan Anda tidak akan pernah lupa sepanjang masa karena dari namanya kita tentu gampang mengingatnya. Iya, K-13 sedikit kita otak-atik jadilah, KIB. Kurikulum Indonesia Bersatu, eh, kurikulum bikinan Kabinet Indonesia Bersatu!

Minggu, 16 November 2014

Mendhem Jero

Sebagai salah satu guru yang dianggap guru senior di sekolah suatu ketika saya diberi kesempatan oleh pimpinan sekolah untuk mengikuti "Sosialisasi Program Induksi untuk Guru Pemula".
Bertempat di Gedung Pemuda, kegiatan selama 2 hari dan diikuti oleh rekan-rekan guru SD/SMP berjalan lancar sesuai rencana. Narasumber adalah guru-guru (dengan tugas tambahan sebagai kepala sekolah SMP/SMA) terpilih karena prestasi.
Ada catatan kecil yang bahan bakunya saya dapatkan dari pujian kepada narasumber yang diungkapkan seorang peserta lain-guru yang dari usia tergolong senior banget-sebut saja Pak A.
"Pak X itu tadi tampil bagus banget. Penjelasan yang disampaikan runtut dengan bumbu humor yang cukup. Enak diikuti. Mudah dipahami. Tapi sayang..."
"Sayang pripun Pak?" Saya yang kebetulan bersebelahan tempat duduk langsung menanggapi karena saya tidak sabar menunggu kelanjutan komentar beliau yang dominan pujian itu.
"Sayang Pak X tadi belum bisa mendhem jero seseorang yang pernah menjadi gurunya..."
Oh. Kemudian saya coba mengingat kembali apa saja yang disampaikan Pak X. Nah, ketemu. Barangkali karena sepenggal kalimat Pak X yang kurang lebih begini:
"Bapak/Ibu jadilah guru yang penuh percaya diri jangan seperti guru saya dulu yang ketika menerangkan pelajaran tatapan matanya tertuju ke langit-langit ruang kelas, karena tidak berani menatap wajah murid-muridnya!"

Jumat, 05 September 2014

Ganti Baju

Saya kira anda sudah maklum terhitung mulai hari ini di sekolah di ruang kerja kita berlaku aturan baru: setiap jumat wajib berseragam pramuka lengkap. Ganti baju.
Sungguhpun bagi saya agak sedikit merepotkan aturan ganti baju ini saya sambut dengan suka cita.
Saya katakan sedikit merepotkan karena, ternyata, tidak mudah mencari ukuran baju dan celana pramuka yang pas dengan ukuran raga saya. Di setiap toko pakaian seragam yang saya datangi selalu tidak ada baju pramuka dengan ukuran yang sunguh-sungguh klop. Tidak ada pilihan lain selain: ndandakke.
Tentang suka cita saya pada aturan baru ini setidaknya ada dua alasan. Pertama, saya tidak perlu lagi repot-repot adu argumentasi dengan istri saya saat dia ngebet pengen membelikan baju batik baru setiap melihat kerah baju batik lama yang saya kenakan mulai pudar warnanya.
Alasan kedua, disadari atau tidak batik seringkali dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk menunjukkan gengsi sosial. Dengan batik kawan sepekerjaan bisa kita sangka lebih rendah dari kita. Mudah-mudahan aturan baru ini bisa mengurangi disparitas berbusana di tempat kerja.
Salam Pramuka!