Sabtu, 26 Juli 2014

Alaah Ndhuk...

Lintang bikin kaget. Saya kira ada pesan penting dari ibundanya yang saat ini sedang berada di desa kelahirannya: Bedoro. Lintang gita-gita dari ruang tengah menuju ke ruang belakang menemui saya hanya untuk ndongeng bahwa komentar saya dikomentari oleh komentator lain. Memang, selama prosesi pilpres 2014 ini Lintang ikut-ikutan membaca artikel dan sekaligus komentar-komentar yang muncul di bawah setiap artikel yang dimuat di kompas.com. Lintang tahu bahwa Irenna adalah nama yang saya pakai di setiap komentar saya.
Di mata Lintang komentar yang dikomentari barangkali lebih menarik dari komentar lainnya. Apalagi penulis komentar berada serumah dengannya.
Alaah ndhuk, ndhuk, ngono wae gawe kaget....

Kamis, 24 Juli 2014

Mangga Jokowi

Sudah dua hari ini sejak capres nomor 2 dinyatakan menang oleh KPU Lintang, sulung kami, telaten sekali menyirami dua tanaman mangga di samping kanan rumah. Dua tanaman baru yang bibitnya kami beli di wetan alun-alun Kajen beberapa hari sebelum pengumuman hasil pilpres resmi oleh KPU dilakukan. Rencananya bila capres nomor urut 1 yang menang maka saya akan menanam (lebih tepatnya memindah tempat) hanya 1 pohon. Bila ternyata yang menang capres nomor urut 2 maka dua-duanya akan saya tanam. Harap diketahui informasi dari mba' si penjual tanaman katanya ini mangga tali jiwo atau penduduk desa kami menamainya pelem madu. Bolehlah namanya tali jiwo atau pelem madu tetapi sejak dua hari yang lalu kami memberi nama baru. Ijinkam kami, di rumah kami, secara sepihak memberi nama lain atas 2 pohon mangga yang baru dua hari kami tanam itu dengan nama: Mangga Jokowi. Tak ada maksud lain. Ini untuk pengingat saja. Maaf.

Rabu, 23 Juli 2014

Kecombrang

Hari ini, 23 Juli 2014 adalah peringatan Hari Anak Nasional 2014. Peringatan hari nasional berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 44 Tahun 1984 tanggal 19 Juli 1984.
Apa hubungan peringatan hari anak nasional dengan judul entri?
Ah, sederhana saja kok. Setiap kali menyebut hari anak saya pasti ingat anak-anak kami yang akrab dengan kecombrang si tanaman hias yang juga obat ini. Juga ingat anak-anak tetangga kami yang disaat mereka meriang atau suhu tubuhnya tinggi orang tua mereka tak tergesa ke apotik mencari obat. Mereka akan segera mendatangi pojok kiri rumah kami: Cari dan ambil bonggol dan batang kecombrang. Bawa ke rumah kecombrang itu lalu dibakar sebentar, pipis sesaat, kemudian diperas. Ambil air perasan kecombrang tadi dan dicampur dengan madu. Jadilah obat turun panas. Alhamdulillah jodoh.
Makanya bagi kami, ingat hari anak, ingat anak-anak, ingat kecombrang!

Selasa, 22 Juli 2014

Jokowi Presiden RI

Saat entri ini saya tulis pasangan capres-cawapres nomor urut 2 oleh Komisi Pemilihan Umum barusaja ditetapkan sebagai pemenang pilpres 2014. Pasangan ini memperoleh 53,15% suara sah atau 70.997.833 suara.
Resmi sudah Pasangan Ir. H. Joko Widodo - Drs. H. M. Jusuf Kalla dipercaya mengemban amanat rakyat untuk memimpin Indonesia selama 5 tahun ke depan. Sambil menunggu 22 Oktober 2014, Jokowi menghuni Istana kita berharap semoga, seperti apa yang pernah dulu saya tulis saat pilgub DKI, Joko Widodo (bila ditulis Jawa: Jaka Widada) menjadi peneguh  kita semua bahwa bila kita bersatupadu bukan mustahil di kemudian hari di bawah kepemimpinan beliau tercipta Jakarta yang Widada.
Banyak yang percaya jika Jakarta beres maka wilayah lain Indonesia akan kena imbas. Ini harapan kita bersama. Salam 3 Jari!

Minggu, 20 Juli 2014

Sejuta Sehari

Melewati jalan tol tidak membayar itu namanya pelanggaran aturan. Membayar lebih dari yang ditarifkan itu sama artinya tambahan pendapatan. Maksud saya tambahan pendapatan bagi petugas tol.
Saya bisa ngomong begini karena tidak sekali dua saya mengalami sendiri. Saat melewati gerbang tol tertulis di daftar bea masuk Rp 6.500,00. Karena tidak ada uang pas maka saya ulurkan selember limaribuan dan selembar dua ribuan. Ya Tujuh ribu rupiah. Anda berpikir saya akan menerima kembalian sebesar Rp 500,00. Ternyata tidak. Dibalik struk tidak saya jumpai uang recehan sebagai kembalian.
Ah, pelit banget. Itu uang kecil brow! Mungkin begitu isi kepala sampeyan. Benarkah uang receh limaratusan itu uang kecil?
Sebentar. Jangan tergesa menjawab. Aktifkan fungsi kalkulator di HP sampeyan dan mari kita luangkan waktu setengah menit untuk berhitung.
Seumpama jumlah kendaraan yang melewati sebuah jalur tol rata-rata setiap harinya, tanpa membedakan kelas, katakanlah dua puluhan ribu unit kendaraan. Sepuluh persen dari jumlah tadi si pengemudi membayar Rp 500,00 lebih besar dari tarif oleh karena tidak tersedia uang pas. Berapa total jenderal uang kembalian (yang tak kembali) tadi terkumpul di sana?
Jawabannya: tak kurang dari sejuta rupiah setiap hari!
Sejuta sehari bagi akal sehat tentu bukan uang kecil.

Sabtu, 19 Juli 2014

Bantuan Kecil

Jembatan itu sangat penting. Bisa dibilang jembatan adalah sebuah bangunan yang berfungsi ganda. Selain sebagai penghubung dua tempat eksistensi jembatan bisa menyadarkan kita betapa hidup boleh tak  saling kenal tetapi harus saling membantu.
Seperti tadi malam. Di desa kami. Karena jembatan Comal tenggelam belasan sentimeter macetlah jalan di kampung kami. Macet total. Kemacetan yang sepanjang sejarah baru terjadi sekali ini.
Tidak banyak yang bisa kami perbuat. Sumbangan kami hanya berupa jawaban atas 2 pertanyaan pokok mereka, "ini arah ke Semarang/Jakarta?".
Jika boleh disebut di sini beberapa  papan kayu tipis seukuran empat kali plat nomor mobil berisikan tulisan penunjuk arah adalah satu-satunya bantuan wujud benda untuk saudara-saudara kita yang sedang berkendara.

Kamis, 17 Juli 2014

Obat Gemas

Jujur saja saya tidak menyimpan kefanatikan berlebih kepada salah satu dari dua pasangan capres-cawapres yang bertarung di 9 Juli yang lalu. Namun demikian gemas juga rasanya hati saya setiap kali membaca artikel atau komentar-komentar di Kompas.com perihal tingkah polah capres-cawapres dan tim sukses masing-masing. Saking gemasnya saya kemudian ikut-ikutan alias nimbrung kirim komentar. Sudah ada lebih 2 lusin komentar saya tulis. Komentar berupa kalimat-kalimat pendek yang mungkin tunamutu. Tak apalah yang penting bisa jadi obat pas penawar gemas.