Sabtu, 15 Juli 2017

Nulis lagi, ah....

Lebih dari dua tahun saya tidak menyentuh blog ini. Lebih dari dua tahun pula saya tidak mengunggah tulisan meski satu-dua kalimat. Ini terjadi karena saya benar-benar kehilangan mood buka-buka blog. Tidak mood kok suwe banget yo... Begitulah adanya.
Jika hari ini tulisan saya muncul kembali di hadapan anda tentulah anda sudah tahu sebabnya. Iya, mood baik untuk menulis di blog datang lagi!

Kamis, 02 April 2015

Kiat Dongkrak Infak

Tulisan ini saya tujukan kepada Anda yang diberi amanah sebagai pengelola kotak infak jumat di masjid di kampung Anda.  Ada kiat ampuh untuk menaikkan perolehan kotak infak di masjid setiap jumat. Silakan dicoba siapa tahu benar-benar ampuh.
Caranya? Simpel saja. Gantilah kotak infak lama yang terbuat dari kayu atau bahan lainnya yang tidak transparan dengan kotak infak baru yang terbuat dari kaca atau bahan lainnya yang transparan!
Jangan kaget. Upaya ini akan menuai pro dan kontra. Santai saja. Berprasangka baik sajalah terhadap jamaah yang kontra dengan tindakan baru Anda ini. 
Mengapa harus kotak infak tembus pandang?
Dengan kotak infak dari kaca, jamaah shalat jumat akan berpikir dua-tiga-empat kali untuk memasukan nominal yang sama dari satu jumat ke jumat berikutnya.
Lama-lama mereka akan malu kepada diri sendiri. Bertahun-tahun melakukan shalat jumat di masjid yang sama dengan nominal infak yang tidak pernah berubah.
Apakah dengan kotak infak transparan keikhlasan para jamaah berkurang dan berkurang pula pahalanya? Saudaraku, kita sudah saatnya berhenti mematematikakan pahala.

Senin, 30 Maret 2015

Foto Lama

Sumber Foto: Grup FB "Geografi  Angkatan 1990"

Senin, 23 Februari 2015

Miniperpustakaan

Ada pembaca yang penasaran dengan istilah "miniperpustakaan" yang dulu pernah saya tulis di sketsa biografis di blog ini.
Adalah sebuah ruang di rumah kami yang kami bangga menyebutnya sebagai perpustakaan. Perpustakaan berdimensi kecil. Luas ruangan tidak lebih dari 30 meter persegi. Koleksi bahan pustaka juga minim. Cuma sekitar seribu tigaratusan. Terdiri buku-buku pelajaran anak-anak kami, buku-buku umum, dan bundelan majalah. Sungguhpun di ruang ini tersimpan seribuan eksemplar koran dan anda bisa mengakses internet tanpa modem, sejatinya belum pantas disebut perpustakaan. Untuk mendekati kepantasan saja kemudian kami menamakannya: Miniperpustakaan.
Untuk mengabadikan tagline Program Seribu Buku maka saya ambil dua kata terakhir ini sebagai nama dari perpustakaan di rumah kami: Miniperpustakaan "Seribu Buku". Begitu ceritanya.
Pembaca, ruang inilah yang, InsyaAllah, jika ada usia panjang dan tiba saatnya saya dan istri saya purnatugas akan kami manfaatkan untuk berbagi. Turut membantu menggelorakan minat baca generasi penerus--anak-anak usia sekolah--di area RW 05 di desa kami. Syukur-syukur bisa lintas desa, lintas usia. Doakan ya....

Minggu, 22 Februari 2015

Sengare

Pagi hingga siang hari ini saya berada di kediaman Bapak Sunar, pensiunan pegawai negeri sipil tinggal di Desa Sengare, Kecamatan Talun. Silaturahim di rumah yang asri di selatan SD Negeri 01 Sengare.
Sore hari Mas Taufiq datang ke rumah pinjam Layla Majnun karya Syekh Nizami. 

Minggu, 08 Februari 2015

Tanya Sendiri

Bisa dimaklumi mengapa teman istri saya (yang juga teman saya) selalu tidak berminat mengikuti seleksi kepala sekolah, hingga saat ini. Padahal di kalangan MGMP semua tahu dia seorang teladan. Saya sebut teladan bukan semata-mata karena dia pernah menyabet gelar guru teladan/berprestasi di kabupaten kami. Tidak sekadar itu. Kreativitasnya saat eksyen di kelas tak hanya  menginspirasi peserta didik namun juga menjadi kiblat para kolega satu mapel.
Ada apa gerangan mengapa sang teladan ini enggan menerima tantangan untuk mengemban tugas tambahan yang sangat mulia--menjadi kepala sekolah--saat terbuka lebar kesempatan dan peluang besar untuk itu?
Maaf. Untuk yang ini anda tanyakan sendiri saja.

Kamis, 01 Januari 2015

Khasiat Twitter

Hari ini saya resmi menjadi twepple. Bukan tanpa tujuan saya membuat akun twitter. Tentu tujuannya bukan agar "kicauan" saya dibaca orang lain. Bukan itu. Tujuan saya membuat akun twitter agar saya bisa tahu dengan lebih cepat pendapat atau tanggapan para tokoh terpelajar tentang isu mutakhir di negeri ini.
Tidak saya sangka-sangka ternyata ada manfaat lain yang saya dapatkan dari tweet yang mereka unggah. Membaca akun twitter KH. A. Mustofa Bisri saya serasa diingatkan untuk melaksanakan kebajikan setiap saat. Dari tweet juga saya menjadi tahu bagaimana reaksi Mohamad Sobary mantan peneliti LIPI dan Empu Kantor Berita Antara yang juga penulis Kang Sejo Melihat Tuhan saat dibuat kesal oleh layanan petugas di sebuah lembaga keuangan milik swasta.
Inilah khasiat twitter.